Bantul, dprd-diy.go.id – Komisi B DPRD DIY menyatakan komitmennya untuk mendukung pengembangan Desa Wisata Tembi, Kalurahan Timbulharjo, Kapanewon Sewon, Bantul, agar dapat bertransformasi menjadi Desa Mandiri Budaya. Kunjungan lapangan yang dilakukan Kamis (31/7/2025) menjadi langkah awal dalam menyusun strategi kebijakan, pendanaan dan inovasi program berbasis kearifan lokal.
Dr. Danang Wahyu Broto, S.E., M.Si., Wakil Ketua Komisi B DPRD DIY, menilai Desa Tembi memiliki sejarah panjang dan potensi besar untuk dijadikan percontohan nasional dalam pengembangan desa berbasis budaya dan pariwisata.
“Desa Wisata Tembi ini sudah mencatat sejarah luar biasa. Penataan wilayahnya asri, memadukan unsur tradisional dan modern. Ini bisa menjadi role model untuk desa-desa lain menuju Desa Mandiri Budaya,” ujar Danang.
Ia menambahkan, dalam proses menuju desa mandiri budaya, Tembi telah siap secara infrastruktur dan atmosfer pariwisata, tinggal mendorong pemenuhan kriteria tambahan seperti desa prima, desapreneur, dan keberlanjutan kegiatan budaya.
Sebagai bagian dari strategi dukungan, Komisi B berkomitmen melakukan pemetaan kebutuhan dan membuka ruang kolaborasi dengan OPD terkait. Menurut Danang, keberlanjutan desa wisata perlu ditopang oleh inovasi serta segmentasi pasar yang tepat.
“Tantangannya ada pada inovasi. Perlu konsep-konsep yang bisa memperkuat nuansa tradisional seperti sendratari, gejog lesung, atau suara gendhing yang menghidupkan suasana. Tapi segmentasinya jangan massal, lebih baik kluster eksklusif agar suasana desa tetap terjaga,” jelasnya.
Komisi B juga mencermati kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian DIY yang cukup signifikan. Berdasarkan data Bank Indonesia yang disampaikan dalam forum, pariwisata dan UMKM menyumbang sekitar 66 persen terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, sehingga pengembangan desa wisata harus dikawal serius.
“Kami di Komisi B fokus pada sektor ekonomi. Ketika tambang atau sumber daya alam tak dimiliki, maka sektor pariwisata dan UMKM jadi tumpuan. Dan ini perlu dikawal agar bisa optimal,” tambah Danang.
Lurah Timbulharjo, Anif Arkham Haibar, S.Pd., juga menyampaikan kesiapan dan komitmen kalurahan dalam pengembangan Tembi menuju Desa Mandiri Budaya. Menurutnya, sejak 2022, pihak kalurahan sudah memulai rintisan budaya dan kini tinggal menyempurnakan elemen seperti desa prima dan desapreneur.
“Kami sudah punya desa wisata dan desa budaya. Sekarang tinggal menyempurnakan unsur lain agar bisa lolos sebagai desa mandiri budaya. Kami juga sedang mengembangkan wisata olahraga dan kuliner untuk menarik lebih banyak publik,” jelas Anif.
Kalurahan Timbulharjo juga memanfaatkan potensi kawasan Sport Center di wilayahnya sebagai daya tarik wisata alternatif. Menurut Anif, kehadiran publik yang ramai akan mendorong pertumbuhan UMKM yang sudah mulai bergeliat di berbagai titik strategis kalurahan.
Dukungan budaya juga datang dari Dukuh Gatak, wilayah yang menjadi bagian dari Desa Wisata Tembi. Dukuh menceritakan bagaimana kegiatan seni tradisi seperti pentas wayang dan latihan dalang cilik pernah rutin digelar dan kini sedang dirintis kembali agar bisa menjadi agenda bulanan.
“Kami pernah rutin adakan pentas wayang bersama dalang cilik tiap akhir bulan. Sekarang akan kami mulai lagi, bulan Agustus ini pentas rutin tiga jam. Harapannya bisa ditopang Danais agar keberlanjutan bisa dijaga,” ungkap Dukuh.
Ia berharap, kombinasi antara kesenian, UMKM, dan pertanian menjadi paket lengkap dalam memperkuat posisi Tembi sebagai desa wisata berbasis budaya yang tangguh dan mandiri.
Di akhir kunjungan, Danang menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara popularitas dan ketenangan suasana pedesaan khas Tembi. Ia mengusulkan strategi drop point wisatawan untuk menjaga kenyamanan lingkungan dan akses jalan yang terbatas.
“Ini suasananya yang dicari wisatawan dari kota besar. Tapi kalau terlalu ramai, hawanya bisa pudar. Maka strategi distribusi wisatawan penting agar desa tetap terasa syahdu,” tutup Danang. (dta/lz)

Leave a Reply