Robotik Luna EMG Debut di RSJ Grhasia, Komisi D Apresiasi Inovasi Rehabilitasi Berbasis Teknologi

Sleman, dprd-diy.go.id – Kehadiran robotik Luna EMG sebagai teknologi rehabilitasi terbaru di RSJ Grhasia mendapat apresiasi dari Komisi D DPRD DIY saat kunjungan kerja pada Kamis (11/12/2025). Teknologi rehabilitasi neuromuskular berbasis sinyal elektromiografi (EMG) ini dinilai sebagai tonggak penting transformasi layanan Grhasia yang kini memperluas kapasitasnya ke bidang rehabilitasi medis dan layanan kesehatan non-jiwa.

Wakil Ketua DPRD DIY, Ir. Imam Taufik, menilai inovasi robotik tersebut sebagai terobosan penting bagi pelayanan kesehatan daerah. Ia melihat bahwa RSJ Grhasia tidak hanya menambah fasilitas, tetapi juga memperluas cakupan layanan untuk menjangkau lebih banyak kebutuhan masyarakat. Imam menyebut pentingnya kehadiran teknologi baru ini sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi dan kualitas penanganan medis.

“Robotik Luna adalah langkah maju bagi RSJ Grhasia. Dengan fasilitas seperti ini, proses rehabilitasi bisa berlangsung lebih efektif dan presisi karena dibantu teknologi yang mampu mensimulasikan gerakan tubuh secara tepat,” ujarnya.

“Kami juga melihat rumah sakit ini mulai berkembang tidak hanya pada bidang kejiwaan, tetapi juga dalam layanan umum seperti anak dan penyakit dalam. Ini perkembangan positif yang patut didorong agar masyarakat semakin mengenal kapasitas baru Grhasia,” sambungnya.

Direktur RSJ Grhasia, dr. Akhmad Akhadi, S., M.P.H., menjelaskan bahwa kehadiran robotik Luna merupakan bagian dari transformasi pelayanan untuk menjawab meningkatnya kebutuhan terapi neuromuskular di DIY. Ia menjelaskan bahwa kasus-kasus gangguan motorik dan saraf semakin banyak ditemukan, sehingga penggunaan teknologi modern menjadi langkah yang semakin diperlukan dalam proses rehabilitasi.

“Metodologi pengobatan ini masih baru dan di DIY baru RSJ Grhasia yang memilikinya. Luna kami hadirkan karena pasien dengan gangguan neuromuscular membutuhkan bantuan robotik untuk mempercepat proses fisioterapi,” jelasnya.

Sementara itu, anggota Komisi D, H. Muhammad Yazid, S.Ag., memberikan catatan penting mengenai perlunya penguatan komunikasi publik terkait pengembangan layanan Grhasia. Ia menilai bahwa transformasi layanan non-jiwa harus disampaikan lebih kuat agar masyarakat mengetahui bahwa Grhasia kini mampu melayani kebutuhan kesehatan umum, bukan hanya persoalan kejiwaan.

“Grhasia tidak hanya melayani kesehatan jiwa, tetapi juga kebutuhan masyarakat umum. Publik harus benar-benar mengetahui perubahan ini agar prospeknya dapat dibahas lebih matang di komisi maupun Banggar,” tegas Yazid.

Menanggapi hal tersebut, dr. Akhmad menegaskan bahwa minat masyarakat terhadap layanan non-jiwa terus meningkat. Ia menyampaikan bahwa perubahan ini sudah terlihat dari data keterisian tempat tidur dan respons pengguna layanan yang semakin baik.

“Dari sebelumnya hanya 1–2 pasien, kini keterisian tempat tidur layanan penyakit dalam dan anak sudah mencapai sekitar 40 persen. Ini menunjukkan masyarakat mulai memberi kepercayaan lebih kepada kami,” tuturnya.

“Kami juga telah menggunakan kanal YouTube dan Instagram untuk memperkuat promosi layanan. Pada 2026 kami akan memperluas kerja sama dengan berbagai mitra, termasuk Bank Sleman, untuk memperkuat publikasi poliklinik Grhasia,” imbuhnya.

Kunjungan Komisi D ditutup dengan peninjauan langsung fasilitas robotik Luna dan ruang rehabilitasi medis modern. Para anggota dewan mengharapkan kehadiran teknologi ini dapat memperkuat kapasitas RSJ Grhasia dalam memberikan layanan kesehatan yang lebih maju dan menjangkau masyarakat lebih luas. (dta/lz)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*