Sleman, dprd-diy.go.ig – Komisi B DPRD DIY bersama DPRD Kabupaten Sleman meninjau kegiatan Kelompok Wanita Tani (KWT) Tresno Nur Ati di Padukuhan Sembego, Kalurahan Maguwoharjo, Kamis (11/9/2025). Dalam kunjungan ini, DPRD DIY mendorong penguatan kolaborasi urban farming melalui sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, sektor swasta, dan kelompok tani sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan di Sleman. Kegiatan ini turut dihadiri Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, S.E., serta jajaran perangkat daerah terkait.
Dalam sesi diskusi, perwakilan KWT Tresno Nur Ati menyampaikan sejumlah aspirasi untuk mendukung pengembangan kelompok, di antaranya permohonan bantuan pengairan berbasis Smart Google Assistant, penyediaan tempat pembibitan, kultivator, paralon instalasi, sepatu boot, alat penyemprot hama, sumur bor, hingga pompa air.
“Tempat pembibitan itu kita mohon kalau bisa pembibitan yang seperti rumah. Kemudian ada juga pralon, cultivator, sepatu boot, mohon bisa dipertimbangkan. Yang kecil pun sudah kami tuliskan,” ujar salah satu perwakilan KWT.
KWT Tresno Nur Ati yang memiliki 23 demontration plot (demplot) di setiap RT dan RW juga menekankan pentingnya dukungan irigasi serta optimalisasi kegiatan urban farming. Selama ini, pupuk kompos diproduksi secara mandiri dengan menggandeng para peternak.
Dukungan serupa disampaikan perwakilan Gapoktan Maguwoharjo yang menyoroti pentingnya proyek penanaman kelapa pandan wangi.
“Perlu saya sampaikan terima kasih sekaligus mohon doa agar proyek besar yaitu penanaman kelapa pandan wangi berjalani sukses. Harapannya, Maguwoharjo dapat menjadi titik sentral, dan kelompok tani tetap eksis. Saat ini Maguwoharjo memiliki 14 kelompok wanita tani dan 13 kelompok tani,” ungkapnya.
Menanggapi hal tersebut, anggota Komisi B DPRD DIY, Yan Kurnia Kustanto, S.E., menekankan perlunya sinergi dengan perguruan tinggi maupun sektor swasta melalui program CSR.
“Maguwoharjo sebenarnya termasuk kalurahan yang punya kampus-kampus besar, bisa kita manfaatkan asal pemerintah Sleman fokus dengan pertanian, CSR-nya keliatannya mudah untuk didapat. Kemarin saya ngobrol dengan petinggi Amikom, mereka punya drone untuk pertanian, nah ini bisa berkolaborasi. Untuk pertanian kita punya perda, itu kalau dijalani, petani sebenarnya sejahtera, perda akan ada artinya kalau dijalani dan disandingkan dengan program aksi yang nanti masuk dalam rencana kerja pembangunan daerah,” jelasnya.
Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, S.E., dalam kesempatan tersebut menegaskan komitmen pemerintah kabupaten untuk mendukung pengembangan pertanian.
“Yang bisa dioptimalkan dari dinas akan kami maksimalkan, baik pendampingan maupun fasilitas lain. Kami juga mendapat bantuan dari Kementerian Pertanian berupa 11.000 bibit kelapa pandan wangi. Ini langsung dari pusat, bukan dari saya pribadi,” ujarnya.
“Yang bisa dioptimalkan dari dinas, SL ada berapa bisa dikasih, pendampingan dan lain sebagainya, kita juga mendapat bantuan dari Kementerian Pertanian dikirim 11.000 bibit kelapa pandan wangi, ini bukan dari saya, ini langsung dari pusat,” ujarnya.
Komisi B DPRD DIY memastikan aspirasi yang disampaikan KWT, Gapoktan, maupun peternak di Sembego akan diteruskan kepada dinas terkait sesuai kewenangan, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi. Beberapa usulan infrastruktur seperti jaringan irigasi, juga akan dikoordinasikan lebih lanjut bersama Komisi C DPRD DIY.
Dengan dukungan pemerintah, potensi kolaborasi perguruan tinggi, serta semangat kelompok tani setempat, Maguwoharjo diharapkan mampu berkembang menjadi kawasan percontohan urban farming sekaligus pusat ketahanan pangan di Sleman. (li/dta)

Leave a Reply