Urgensi Percepatan Pembangunan Jalan Alternatif Prambanan – Gading

Jogja, dprd-diy.go.id – Pada tahun 2016 telah direncanakan pembangunan jalan alternatif Prambanan-Gading yang pembangunannya dimulai pada tahun 2017. Pembangunan jalan alternatif ini sempat terganggu karena beberapa kendala, diantaranya keterbatasan anggaran akibat adanya refocusing.

Arif Setiadi, Ketua Komisi C DPRD DIY mengatakan bahwa pembangunan jalan alternatif ini termasuk salah satu program prioritas di DIY. Menurut penjelasannya jalan alternatif ini memiliki satuan ruang strategis yang menghubungkan Prambanan dan kawasan khas Gunung Kidul yang meneruskan ke jalur di Pantai Selatan.

“Ini sangat urgen ada keterkaitannya dengan satuan ruang strategis pengubung Prambanan, Nglanggeran dan suatu saat bisa ke JJLS (Jalur Jalan Lintas Selatan). Ini bisa menjadi jalur utama satuan strategis penghubung jalan di Prambanan – Gunung Kidul menjadi penting dan sangat diprioritaskan, terutama nanti jika dikaitkan dengan tol,” ungkapnya.

Adanya ruas jalan yang sudah selesai, dinilai Arif sudah mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Proyek ruas jalan yang belum dibangun ini diharapkan akan selesai pada tahun 2023, sehingga sudah bisa menghubungkan Prambanan – Gading.

“Ruas Tawang – Gading semoga tahun 2023 sudah selesai. Selain penganggaran kita juga evaluasi sambil mendengarkan aspirasi masyarakat. Geliatnya sudah mulai muncul, semisal para pedagang makanan (warung). Ada beberapa desa yang terlewati (jalan) muncul aspirasi dari pemerintah desa yang ada, semisal ada yang mau bikin pasar. Pengembangan di Nglanggeran dan Kedung Kandang juga, misalnya terkait dengan pariwisata,” ucap Arif menjelaskan kondisi masyarakat sekitar.

Kepala Dinas PUP-ESDM DIY, Anna Rina Herbranti menyampaikan bahwa pihaknya menargetkan operasional jalan secara sempurna dapat dilaksanakan pada tahun 2025. Saat ini proyek pembangunan jalan masih dalam proses pembebasan beberapa tanah yang dilewati pembangunan jalan.

“Perencanaan di tahun 2016, pembangunan mulai di tahun 2017. Harapannya tahun 2025 sudah bisa digunakan dengan total (jalur) Prambanan sampai Wonosari sekitar 28 kilometer. Sekarang baru berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan masih mengerjakan (pembangunan) di Prambanan – Gayamharjo, pembebasan tanah pun belum selesai sekarang masih berproses,” jelas Anna.

Terkait kendala yang ditemui dalam pembangunan jalan ini, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan pemerintah pusat. Selain itu untuk percepatan pembangunan jalan, Dinas PUP-ESDM terus melakukan koordinasi dengan DPRD DIY, Pemkab Sleman dan Pemkab Gunung Kidul.

“Kami koordinasi dengan DPRD DIY, Kabupaten Gunung Kidul dan Kabupaten Sleman agar pembangunan jalan alternatif bisa cepat selesai. Jalan alternatif ini juga bisa untuk membangkitkan perekonomian, sehingga harapannya masyarakat Prambanan hingga Gading bisa bangkit perekonomiannya,” ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Gunung Kidul, Drajat Ruswandono menyampaikan adanya jalan ini nantinya tentu dapat membangkitkan perekonomian Gunung Kidul. Terlebih karena Gunung Kidul hanya bisa menonjolkan dari segi pariwisatanya saja.

“Dengan adanya jalur alternatif ini antara Prambanan – Gading tentu akan sangat banyak manfaatnya. Ketika dua kabupaten ini yakni Gunung Kidul dan Kulon Progo tertinggal, Kulon Progo sudah memiliki bandara, nah di Gunung Kidul satu-satunya hanya bisa melalui pariwisata,” terang Drajat.

Menurutnya jalan yang mempertemukan dia jalur utama Jogja-Solo dan Jogja-Wonosari ini sangat besar manfaatnya untuk Gunung Kidul. Adanya jalur ini pun dapat mempersingkat masyarakat dalam mengakses Wonosari, sehingga ia berharap dapat mempercepat daerah terisolir di Gunung Kidul bagian Utara. (fda)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*