Sleman, dprd-diy.go.id – Di tengah penurunan kunjungan dan dinamika kebijakan pariwisata, Komisi B DPRD DIY meninjau langsung potensi Tebing Breksi di Kalurahan Sambirejo, Prambanan, Jumat (13/2/2026). Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya merumuskan arah baru pengembangan pariwisata kawasan Prambanan, agar Breksi tidak sekadar bertahan, tetapi mampu tumbuh sebagai penggerak ekonomi masyarakat di tengah tantangan efisiensi anggaran dan perubahan pola kunjungan wisata.
Perwakilan Pemerintah Kalurahan Sambirejo menyampaikan bahwa sektor pariwisata pascapandemi belum sepenuhnya pulih. Sejumlah kebijakan, termasuk pembatasan study tour dari beberapa daerah, turut berdampak pada penurunan jumlah kunjungan. Pengelola berharap adanya dukungan kebijakan dan program dari DPRD DIY agar pengembangan wisata, termasuk rencana inovasi seperti kereta gantung, dapat terealisasi.
Ketua Komisi B DPRD DIY, Andriana Wulandari, S.E., M.IP., menegaskan bahwa Tebing Breksi merupakan contoh keberhasilan transformasi bekas tambang menjadi destinasi wisata yang mampu menghidupi masyarakat sekitar. Menurutnya, penguatan sektor pariwisata tidak bisa hanya bergantung pada anggaran pusat, sehingga diperlukan sinergi antara DPRD, pemerintah daerah, dan dinas terkait.
“Tebing Breksi adalah potensi luar biasa. Dari batu bisa menjadi miliaran rupiah. Komisi B siap menjadi jembatan untuk mendorong dukungan kebijakan dan anggaran agar pengembangannya semakin optimal,” ujarnya.
Dalam sesi diskusi, Ketua Desa Wisata Sambirejo (Dewisambi), Kholiq, menyampaikan bahwa sejak April 2025 Tebing Breksi telah ditetapkan sebagai Geopark Nasional dan tengah memasuki proses penjurian menuju Geopark Internasional. Meski sempat terpuruk saat pandemi, destinasi ini mampu bangkit tanpa merumahkan 140 karyawan tetap. Pada puncaknya, pendapatan tertinggi tercatat mencapai sekitar Rp1,2 miliar.
Namun demikian, sejumlah faktor seperti isu klitih, persoalan sampah, serta kebijakan larangan study tour di beberapa daerah kembali memicu penurunan kunjungan. Tebing Breksi sendiri menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 400 orang, termasuk pelaku UMKM, pedagang kaki lima, pengelola restoran, hingga pekerja pembangunan.
Sebagai strategi bertahan, pengelola menghadirkan pertunjukan seni dan budaya seperti “Batu Breksi Bernyanyi” serta penampilan sanggar lokal setiap akhir pekan dan dalam penyambutan tamu. Potensi kawasan juga diperluas dengan destinasi sekitar, seperti Watu Payung, yang menawarkan panorama matahari terbit.
Anggota Komisi B DPRD DIY, Yan Kurnia Kustanto, S.E., menilai promosi dan penguatan atraksi menjadi kunci pengembangan ke depan, terutama dalam konteks kawasan strategis pariwisata Prambanan. Penguatan promosi digital, peningkatan kapasitas pramuwisata, serta pengemasan atraksi berbasis budaya dinilai penting agar wisatawan tidak hanya melintas, tetapi turut singgah dan menikmati kawasan Breksi.
Dinas Pariwisata DIY menambahkan bahwa pengembangan pemandu wisata berbasis keistimewaan serta strategi menahan arus wisatawan menjadi tantangan bersama. Kolaborasi lintas pemerintah provinsi dan kabupaten dinilai perlu diperkuat, terlebih di tengah keterbatasan anggaran.
Menutup kunjungan, Andriana Wulandari menegaskan pentingnya membangun ekosistem pariwisata yang terintegrasi, termasuk memperhatikan dampak infrastruktur seperti jalur exit tol dan Jalur Lintas Selatan agar tidak membuat wisatawan sekadar lewat tanpa berkunjung.
“Perlu ada forum bersama untuk merumuskan strategi pariwisata Prambanan dan sekitarnya. Dengan keterbatasan anggaran, kita tetap harus menjaga dan mengembangkan pariwisata berbasis budaya sebagai ciri khas DIY,” pungkasnya. (alf/dta)

Leave a Reply