Jogja, dprd-diy.go.id – Menuju terwujudnya destinasi pariwisata yang tangguh menghadapi cuaca ekstrem, Komisi B DPRD DIY mendorong penguatan mitigasi pariwisata melalui Forum Group Discussion (FGD) bersama wartawan unit DPRD DIY pada Rabu (3/12/2025). Forum yang digelar di Ruang Rapat Paripurna Lantai 1 DPRD DIY ini menghadirkan Dinas Pariwisata DIY dan akademisi Universitas Gadjah Mada untuk membahas kesiapan sektor pariwisata DIY dalam menyambut libur akhir tahun di tengah meningkatnya potensi risiko bencana.
Ketua Komisi B DPRD DIY, Andriana Wulandari, S.E., M.IP., membuka forum dengan menyampaikan pentingnya kesigapan seluruh pihak dalam mengantisipasi dampak cuaca ekstrem dan menegaskan bahwa aspek keselamatan harus menjadi perhatian utama dalam menyambut lonjakan wisatawan.
“Cuaca ekstrem adalah risiko yang benar-benar harus diantisipasi agar libur akhir tahun tetap berlangsung aman dan nyaman,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Komisi B siap memperkuat fungsi pengawasan serta meningkatkan sinergi antar OPD, sekaligus memastikan bahwa penyusunan regulasi tambahan dapat dilakukan apabila memang diperlukan sebagai payung hukum sektor pariwisata.
“Komisi B siap memperkuat pengawasan dan sinergi antar OPD. Jika memang dibutuhkan, kami juga mendukung penyusunan regulasi tambahan sebagai payung hukum untuk memastikan sektor pariwisata berjalan aman dan berkelanjutan,” imbuhnya
Sekretaris Dinas Pariwisata DIY, Lis Dwi Rahmawati, S.E., M.Acc., menyampaikan bahwa libur akhir tahun diprediksi akan mengalami lonjakan kunjungan. Jumlah wisatawan saat Nataru meningkat 23% dibanding tahun sebelumnya, dan tingkat hunian hotel meningkat 5,63%. Candi Prambanan tercatat menjadi destinasi paling banyak dikunjungi.
Sebagai langkah persiapan, Dinas Pariwisata telah mengidentifikasi potensi risiko dan titik rawan untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem. Berbagai langkah persiapan dilakukan, antara lain pendirian posko di Bandara dan Malioboro, pemantauan kondisi cuaca dan lalu lintas melalui Kominfo, mempublikasikan informasi destinasi wisata beserta perkembangan kondisi cuaca melalui media sosial, serta penerbitan surat edaran standar keamanan destinasi.
“Kami memastikan destinasi wisata tetap aman, nyaman dan menyenangkan bagi wisatawan,” ungkap Lis.
Sementara itu, akademisi UGM, Ghifari Yuristiadhi Masyhari Makhasi, S.S., M.A., M.M., CHE., menjelaskan bahwa potensi cuaca ekstrem meningkat sejak September dan diperkirakan semakin menguat pada Januari 2026. DIY disebut tengah berada dalam situasi multi-hazard dengan potensi banjir, longsor hingga risiko kecelakaan.
“Penerapan manajemen risiko harus benar-benar dipersiapkan, termasuk SOP penutupan destinasi jika kondisi tidak aman,” terangnya.
Ia merekomendasikan penguatan komunikasi mitigasi berbasis data BMKG dan BPBD, kampanye wisata adaptif cuaca, serta pengembangan wisata ramah lingkungan sebagai peluang jangka panjang.
Dalam sesi diskusi, wartawan menyampaikan perhatian terhadap durasi lama tinggal wisatawan yang relatif singkat serta strategi peningkatan spending power dan pengembangan wisata jangka panjang.
Menanggapi hal itu, Dinas Pariwisata menyampaikan perlunya diversifikasi jenis wisata, standarisasi fasilitas destinasi dan penguatan SOP destinasi wisata untuk mendukung kenyamanan kunjungan dan mendorong wisatawan tinggal lebih lama. Selain itu, data menunjukkan rata-rata spending wisatawan nusantara mencapai Rp2,3 juta per kunjungan.
Sebagai penutup, Lis menyampaikan apresiasi atas masukan forum dan menegaskan pentingnya peran media. Lis menegaskan kembali pentingnya kontribusi media dalam memperkuat kesiapsiagaan publik.
“Informasi dari berbagai media sangat berpengaruh untuk membantu menentukan daerah yang layak dikunjungi agar wisatawan dapat berwisata dengan nyaman,” ujarnya.
Ghifari menambahkan bahwa pemberitaan dan monitoring media berperan besar dalam menjadikan DIY sebagai destinasi yang peduli terhadap keselamatan wisatawan. (Ind/dta)

Leave a Reply