Forum Anak Daerah DIY Jelaskan Aspirasinya ke DPRD DIY

Jogja, dprd-diy.go.id – Forum Anak Daerah (FAD) DIY melakukan audiensi dengan Komisi D DPRD DIY. Audiensi antara DPRD DIY dengan FAD DIY tersebut didampingi oleh DP3AP2 DIY membahas tentang program kegiatan yang dilakukan oleh FAD DIY pada Jumat (17/09/2021).

Audiensi diterima oleh Sofyan Setyo Darmawan selaku Sekretaris Komisi D DPRD DIY dan dilanjutkan dengan pemaparan kegiatan-kegiatan yang sedang dilakukan FAD DIY.

“Mendampingi anak anak DIY, FAD sudah sampai tingkat desa. Mendampingi dalam berbagai kegiatan, kordinasi dengan kabupaten hingga desa. Sehingga terkumpul di FAD DIY. Yang mereka diskusikan sehingga menjadi kebutuhan untuk dipenuhi pemerintah,” ungkap Merliana.

Forum anak merupakan organisasi yang dibina oleh pemerintah republik Indonesia melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang berada di 34 provinsi di Indonesia hingga ke tingkat desa. Saat ini FAD DIY terdiri dari 22 orang yang terdiri dari 5 kota dan kabupaten di DIY.

“Kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan antara lain FAD berbagi, sosialisasi, dolan, talkshow, sedangkan kegiatan yang sudah dilakukan FAD sosialisasi, FAD berkarya, dan pemehati,” ujar Ana, Ketua internal FAD.

Lebih lanjut FAD menyampaikan yang menghasilkan suara anak. Suara anak yang dihasilkan pada bulan Maret menghasilkan 10 suara anak yang dibagi menjadi 5 kategori.

“Menghasilkan dua suara anak yaitu menginginkan adanya sosialisasi dari dampak pernikahan dini, edukasi seks, dan percepatan undang-undang mengenai batas usia pernikahan anak, suara anak yang kedua adalah menginginkan adanya himbauan dari pemerintah terhadap keluarga agar dampak negatif seperti anak tidak paham yang dijelaskan oleh guru dalam proses belajar mengajar secara daring tidak terus terjadi yaitu dengan membuatkan kontrak belajar,” ungkap Cahyo duta anak klaster dua.

Tri berharapupaya pengoptimalan layanan konseling anak terkait kesehatan mental anak dapat diakses dengan mudah. Ia juga menyampaikan keresahannya soal kurangnya perhatian pada kawasan tanpa rokok yang dapat membahayakan kesehatan anak.

“Menginginkan pengoptimalan layanan konseling anak mengenai kesehatan metal yang mudah diakses oleh anak. Suara anak yang kedua dari klaster tiga yaitu meminta pemerintah untuk pengoptimalan kawasan tanpa rokok yang ada di DIY. Saya rasa kawasan tanpa rokok di DIY masih sangat minim dan hal tersebut sangat berdampak buruk bagi kesehatan anak,” imbuhnya.

Lala dari klaster 4 duta anak berharap adanya jaminan belajar 12 tahun hingga SMA sederajat. Hal tersebut didasari karena adanya anak yang putus sekolah sebelum masuk SMA sederajat, faktor-faktor yang melandasi putus sekolah tersebut antara lain masalah keluarga, hamil di luar nikah dan lingkungan yang tidak mendukung.

“Permasalahan yang kedua yaitu mengharapkan pengoptimalkan fasilitas ramah anak baik dalam kalangan usia anak dan distabilitas. Pengadaan fasilitas-fasilitas ramah anak sudah ada namun kurangnya pengoptimalan dalam fasilitas tersebut agar dapat digunakan oleh anak dan distabilitas,” lanjutnya.

Sementara Fatika, duta anak klaster 5 mengungkapkan perlupengoptimalan fasilitas untuk anak berkebutuhan khusus (ABK) di tempat umum dan suara anak yang kedua yaitu perlu adanya tempat edukasi, pengaduan, perlindungan, dan pengawasan terutama kepada anak.

“Pengoptimalan fasilitas untuk anak seperti pemasangan poster di tempat umum,” jelas Fatika.

Mendengar permintaan dari FAD yang beragam, Sofyan memberi tanggapan positif dalam audiensi yang tengah berlangsung.

“Kami senang dan kami selalu pengen mengundang forum anak dan sangat mendukung. Anak harus bener bener dikawal dan difasilitasi. Bisa menggunakan pergub, sebelum ada perda. Kami sangat berterimakasih anak anak bisa memberikan masukan,” ujar Sofyan. (fir)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*