Komisi B Proyeksikan Dewi Kajii sebagai Lokomotif Ekonomi Warga Berbasis Ikan Hias

Bantul, dprd-diy.go.id – Rabu (28/1/2026), Komisi B DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melakukan Kunjungan Dalam Daerah (KDD) guna meninjau langsung potensi Desa Wisata Dewi Kajii yang berlokasi di Padukuhan Kadisoro, Kalurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul. Kunjungan ini bertujuan melihat secara langsung pengembangan desa wisata berbasis potensi lokal, khususnya budidaya ikan hias yang dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi dan daya saing hingga pasar internasional.

Rombongan Komisi B DPRD DIY diterima langsung oleh Lurah Gilangharjo, Suwardoyo Suwarno, bersama pengelola Desa Wisata Dewi Kajii. Kegiatan ini turut dihadiri perwakilan Dinas Pariwisata DIY, Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, Dinas Pariwisata Bantul, Dinas Kelautan dan Perikanan Bantul, Dinas Koperasi dan UMKM Bantul, serta para pelaku UMKM dan kelompok masyarakat setempat.

Ketua Komisi B DPRD DIY, Andriana Wulandari, S.E., M.IP., menegaskan bahwa kunjungan lapangan ini merupakan bagian dari pelaksanaan fungsi pengawasan, khususnya terkait kebijakan dan penganggaran yang berdampak langsung bagi masyarakat.

“Kami ingin melihat langsung kondisi di lapangan sekaligus mendengar aspirasi dari pengelola dan masyarakat. Desa Wisata Dewi Kajii merupakan salah satu desa wisata unggulan dengan berbagai prestasi. Di balik prestasi tersebut tentu terdapat tantangan dan kendala yang perlu kami kawal agar dapat ditindaklanjuti melalui kebijakan maupun penganggaran ke depan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Andriana menekankan bahwa potensi yang dimiliki Kalurahan Gilangharjo perlu didorong agar menjadi program prioritas yang benar-benar berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat.

“Potensi di tingkat kalurahan harus menjadi skala prioritas, terutama yang memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat. Hal ini akan menjadi perhatian kami dalam pembahasan anggaran pada tahun-tahun berikutnya,” tambahnya.

Sementara itu, pengelola Desa Wisata Dewi Kajii, Muhammad Gema Ramadhan, dalam paparannya menjelaskan bahwa Dewi Kajii merupakan desa wisata berbasis ikan hias satu-satunya di Indonesia. Potensi tersebut telah berkembang sejak tahun 1990-an melalui berbagai kegiatan, termasuk lomba ikan hias, yang kemudian mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi masyarakat.

“Ikan hias menjadi kekuatan utama Dewi Kajii. Sejak lama masyarakat bergerak di bidang budidaya ikan hias dan ini menjadi penggerak ekonomi. Harapan kami, ke depan Dewi Kajii dapat berkembang menjadi kampung ikan hias berskala nasional pada periode 2030–2045 secara berkelanjutan,” jelasnya.

Salah satu pelaku utama budidaya ikan hias, Kris, menyampaikan bahwa potensi ikan hias di Gilangharjo sangat besar dan telah menembus pasar internasional.

“Pasar ikan hias kami saat ini sudah berskala global, sekitar 50 persen ke Asia, 40 persen ke Eropa, dan 20 persen ke kawasan lainnya. Namun, kendala terbesar adalah belum adanya jalur ekspor langsung dari DIY, sehingga pengiriman masih harus melalui daerah lain,” ungkapnya.

Ia berharap adanya dukungan kebijakan dan regulasi, khususnya terkait pembukaan jalur distribusi langsung, serta perlindungan dan pengelolaan lahan demi keberlanjutan budidaya ikan hias di wilayah Gilangharjo.

Wakil Ketua Komisi B DPRD DIY, Dr. Danang Wahyu Broto, S.E., M.Si., menilai potensi ikan hias di Desa Wisata Dewi Kajii memiliki nilai ekonomi tinggi dan peluang besar untuk dikembangkan secara berkelanjutan.

“Ini merupakan potensi ekonomi yang sangat menjanjikan. Tidak hanya soal anggaran, tetapi juga visi dan misi jangka panjang. Kegiatan atau event yang terjadwal dan berkelanjutan perlu terus didukung agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya.

Perwakilan Dinas Pariwisata Bantul, Karman, A.Md., menegaskan komitmen pihaknya dalam mendorong pengembangan desa wisata yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan kunjungan, tetapi juga penguatan ekonomi dan kelembagaan masyarakat.

“Kami menargetkan desa wisata di Bantul dapat berkembang secara berkelanjutan, baik dari sisi ekonomi maupun kelembagaannya,” ungkapnya.

Senada, perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan DIY menyatakan kesiapan untuk bersinergi melalui program pelatihan, pendampingan, serta peningkatan kualitas budidaya ikan hias agar mampu memenuhi standar pasar nasional maupun internasional.

Menutup kunjungan, Andriana Wulandari menegaskan bahwa pengembangan Desa Wisata Dewi Kajii harus tetap berbasis pada potensi lokal dan dikelola secara berkelanjutan.

“Pengembangan desa wisata harus memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat. Sinergi antara pemerintah daerah, kalurahan, dan masyarakat menjadi kunci agar potensi ini dapat terus tumbuh dan berkembang,” pungkasnya. (arn/dta)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*