Lanjutan RAKER PANSUS Penyertaan Modal Daerah Pada BUMD

Jogja, dprd-diy.go.id–Jum’at (21/9/2018) Rapat Pansus dilaksanakan di Ruang Lobby Lt.1 pada pukul 10.45 WIB dengan agenda paparan dari Tim Eksekutif/ Narasumber tentang RPJMD tahun 2018-2022 yang terkait dengan Penyertaan Modal BUMN. Pimpinan rapat, Suharwanto ST, membuka pertemuan siang itu yang dihadiri oleh Pimpinan DPRD DIY, Pimpinan dan anggota Pansus, Perwakilan Kemenkumham DIY, BAPPEDA, dan DPPKA DIY. Di awal, Ketua Pansus menyampaikan formulasi kerangka penyertaan modal tidak akan mengurangi kinerja. Terkait hal itu, para narasumber menyampaikan masing-masing paparannya.

Dari DPPKA, menyampaikan tiga hal terkait penyertaan modal yaitu, tim penyusun analisis investasi, RPJMD, dan Bank BPD DIY. Lalu BAPPEDA mengungkapkan tentang RPJMD ada komposisi dan penambahan setoran modal oleh pemegang saham Bank BPD DIY. Disampaikan juga bahwa dari tahun ke tahun sudah tercantum rencana pemenuhan modal yang disetor oleh Pemda DIY. Sedangkan substansi program dan cara pencapaian program RPJMD adalah kerjasama dari berbagai pihak. Hal itu mendapat tanggapan dari pimpinan bahwa kerangka yang sudah dicantumkan dalam rencana pembangunan perlu disinkronisasikan untuk dua tujuan yaitu, sebagai sumber daya daerah dan guna menumbuhkan perekonomian daerah.

Kemudian paparan dari Bank BPD DIY, Santoso, menjelaskan kinerja yang telah dicapai. Pertumbuhan aset naik sebesar 13,83 % dan dana pihak ketiga meningkat 11,62 %. Artinya kepercayaan masyarakat DIY cukup besar. Disampaikan juga market share Bank BPD DIY terhadap perbankan DIY, komposisi penyaluran kredit dan pembiayaan, kredit dan pembiayaan kepada UMKM, yang dinilai cukup baik. Begitu pun dengan program penyaluran KUR, pelayanan pasar tradisional, pelayanan pasar tradisional, dianggap mengalami perkembangan yang baik. Contoh dari meningkatnya kapasitas ekonomi yaitu pembiayaan RSUD Sleman dan RSUD Kulon Progo jauh lebih besar sedangkan untuk komposisi menengah yaitu pada peran perguruan tinggi.

Bank BPD DIY juga memberikan kredit untuk meningkatkan perekonomiaan di berbagai sektor, pertama dari lembaga pendidikan di DIY seperti UGM, UIN, UMY, UNY, UAD, UPN, UII, dsb. Kedua dari lembaga kesehatan seperti PKU, Bethesda, Panti Rapih, RSUP Sarjito, dsb. Ketiga dari sektor pendukung Pariwisata seperti Perhotelan, Restoran, Pusat souvenir & oleh-oleh. Keempat dari Industri Kreatif seperti Kerajinan, Event Organizer, Fashion, Video/Fotografi dan lainnya.

Mengakhiri acara rapat tersebut, Suharwanto memberikan kesimpulan bahwa perlu komitmen yang jelas untuk program dari BPD DIY. Serta untuk menujukan perhatian pada CSR untuk mendongkrak masyarakat miskin. Selain itu, memfokuskan pada objek-objek pariwisata yang dikelola masyarakat untuk memberi support pada masyarakat. Singkatnya jika proyeksi program dengan modal meningkat maka bisnis meningkat, CSR pun juga akan meningkat. Sehingga pembangunan daerah dalam sektor ekonomi dapat meningkat pula. (ia/fu)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.