Sleman, dprd-diy.go.id – Komisi B DPRD DIY melakukan kunjungan kerja dalam daerah ke Desa Wisata Gamol, Padukuhan Balecatur, Kapanewon Gamping, Sleman, Kamis (28/8/2025). Kunjungan ini dilaksanakan untuk menggali sejarah, potensi, hingga kendala yang dialami Desa Wisata Gamol dalam perjalanannya menjadi salah satu desa wisata unggulan di Sleman.
Sekretaris Komisi B DPRD DIY, Wildan Nafis, S.E., M.H., mengungkapkan bahwa kedatangan rombongan dewan bukan hanya sebatas kunjungan seremonial, melainkan untuk melihat langsung dinamika perkembangan Gamol sebagai desa wisata.
“Kami ingin menilik bagaimana sejarah Gamol bisa menjadi desa wisata, apa saja lika-likunya, dan bagaimana dukungan pemerintah daerah maupun pihak swasta melalui CSR. Ini penting agar pengembangan wisata bisa lebih berkelanjutan,” ujar Wildan.
Dukuh Gamol sekaligus pengelola desa wisata, Tamtama, menyampaikan bahwa perjalanan Gamol menjadi desa wisata tidaklah singkat. Awalnya kawasan ini dikenal sebagai daerah kumuh bernama Ledoksari. Namun dengan tekad masyarakat, wilayah tersebut diubah namanya menjadi Ledokasri dan perlahan ditata menjadi kawasan yang layak dikembangkan.
Gamol kemudian mendapat dukungan dari CSR Pertamina sejak tahun 2012 melalui program pemetaan area bersama mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM). Dari situ lahir berbagai kegiatan produktif masyarakat, antara lain bidang peternakan kambing peranakan etawa (PE) untuk pemerahan susu, produksi jamur tiram, pengelolaan bank sampah Pepeling, budidaya anggrek, hingga pembentukan kelompok Mina Sejahtera untuk usaha perikanan.
“Sebagian besar fasilitas desa wisata, sekitar 80 persen, memang berasal dari CSR Pertamina. Mulai dari bantuan kolam ikan, peralatan jamur, budidaya kambing, hingga pendirian joglo yang berdiri di tanah pelungguh dukuh Gamol. Namun masih ada kendala nyata terutama di kesiapan SDM untuk mendampingi kunjungan wisatawan, serta masalah kebersihan lingkungan yang belum maksimal,” terang Tamtama.
Selain CSR Pertamina, Gamol juga pernah mendapat bantuan dari Dinas Pariwisata Sleman berupa pembangunan gapura, penerangan jalan, drainase, pengerasan jalan, hingga lapak Komprang. Lapak Komprang sendiri menjadi salah satu daya tarik unik Gamol sebagai pusat pelestarian burung merpati, sekaligus laboratorium penelitian UGM.
Tak hanya wisata alam dan edukasi, Gamol juga mengembangkan berbagai atraksi budaya seperti wiwitan, macapat, sholawat nabi islami, serta lampah budaya Mubeng Gamol. Kegiatan ini diharapkan bisa menguatkan identitas Gamol sebagai desa wisata berbasis budaya.
Ketua Komisi B DPRD DIY, Andriana Wulandari, S.E., M.I.P., mengapresiasi langkah masyarakat Gamol dalam mengelola potensi lokal. Menurutnya, pemberdayaan masyarakat di Gamol sudah berlangsung baik, namun tetap perlu pendampingan dari berbagai pihak.
“Desa Wisata Gamol memiliki potensi besar. Kami di Komisi B hadir untuk mengkaji permasalahan dan kendala yang ada, kemudian mengambil langkah agar ada sinergi antara pemerintah daerah, desa, hingga masyarakat,” terangnya.
Andriana menambahkan, DPRD DIY tengah membahas Rancangan Perda tentang Pariwisata Berbasis Budaya. Dalam konteks itu, Gamol dapat menjadi salah satu model pengembangan desa wisata yang menonjolkan budaya lokal. Ia juga menekankan pentingnya pelatihan promosi dan digital marketing agar Gamol bisa dikenal lebih luas.
“Perlu dirangkul anak muda agar ikut andil, terutama di era digital seperti sekarang. Promosi lewat teknologi akan membuat Gamol semakin populer,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Nanang Haryanto, Carik Balecatur, yang menilai Gamol perlu penguatan kelembagaan dan SDM agar kelompok usaha yang sudah terbentuk tidak berhenti di tengah jalan. Menurutnya, Gamol termasuk padukuhan unggulan yang kerap menjadi lokasi penelitian mahasiswa, sehingga potensi akademik ini juga harus dirangkul.
Sementara itu, Yan Kurnia Kustanto, S.E., anggota Komisi B DPRD DIY, mengingatkan pentingnya pendataan kelompok pertanian melalui Simluhtan (Sistem Informasi Penyuluhan Pertanian).
“Kalau sudah masuk Simluhtan, mereka bisa mendapat bantuan anggaran dari provinsi. Kami juga akan melakukan sinergi agar budidaya anggrek maupun produksi baglog jamur bisa didampingi lebih intensif,” jelasnya.
Dari rangkaian diskusi, terlihat bahwa masyarakat Gamol memiliki semangat tinggi dalam mengembangkan desanya sebagai desa wisata berbasis budaya dan potensi lokal. Namun berbagai kendala seperti promosi, kebersihan lingkungan, hingga kesiapan SDM masih menjadi pekerjaan rumah.
Komisi B DPRD DIY berkomitmen menjembatani kebutuhan tersebut dengan sinergi antara pemerintah daerah, kalurahan, CSR, akademisi, dan masyarakat. Dengan pendampingan yang berkelanjutan, Desa Wisata Gamol diharapkan mampu menjadi salah satu destinasi unggulan di Sleman, sekaligus memberi dampak nyata pada kesejahteraan warga. (cc/dta)

Leave a Reply