Raker Pansus BA. 39 Tahun 2018, Yogyakarta Diupayakan Menjadi Wisata Budaya Unggul Dunia

Jogja, dprd-diy.go.id – DPRD DIY kembali melaksanakan Raker Pansus BA 39 Tahun 2018 (Perubahan Perda RIPPARDA) pada pukul 13.30 WIB di ruang Bapemperda lantai dua. Raker Pansus dipimpin oleh Janu Ismadi dan dihadiri oleh pimpinan DPRD DIY, pimpinan dan anggota Pansus BA 39 Tahun 2018. Raker Pansus ini merupakan lanjutan dari Raker Pansus yang dilaksanakan pada 26 Oktober 2018. Janu Ismadi mempersilakan Kepala Dinas Pariwisata diminta untuk mengulas kembali secara umum hasil Raker Pansus Jumat lalu mengenai perubahan Perda RIPPARDA. Kepala Dinas Pariwisata kemudian membacakan reformulasi visi pariwisata DIY (tahun 2017-2025) yaitu menuju Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai destinasi wisata unggulan dunia tahun 2025. Totok Hedi Santosa kemudian menanggapi hasil pemaparan tersebut bahwa Yogyakarta tidak bisa dilepaskan dari tiga komponen, yakni pedidikan, pariwisata, dan kebudayaan. Menimpali tanggapan tersebut Kepala Dinas Pariwisata mengatakan, “Kita tidak bisa lepas dari budaya, karena wisata kita ialah budaya. Maka diubah menjadi menuju Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai destinasi wisata budaya unggulan dunia tahun 2025”.

Totok juga menyebutkan salah satu contoh wisata budaya yang mampu menarik internasional ialah pariwisata di Banyuwangi. Hal itu dikatakan karena Banyuwangi mampu membuat event kebudayaan yang menarik wisatawan berbidang besar dengan tarian khasnya yaitu seribu gandrung. Ia pun menambahkan bahwa Yogyakarta memiliki kerajaan Mataram yang nanti bisa dielaborasi. Selain itu terdapat pula Jogja Art yang modern, namun memang hanya sedikit orang-orang yang minat dengan seni rupa. Event-event tersebutlah yang bisa dikatakan wisata budaya unggulan dunia. “Wisata di Yogyakrata jangan hanya mengandalkan alam, alam hanya bagian dari tempat berpijak. Ada suatu kota kecil di Jepang dengan penduduk 20 ribu tapi dalam setahun tamunya ada 1 juta, hal itu terjadi karena ia memunculkan semua icon budaya lokalnya” Tambah Totok.

Suharwanta juga menambahkan bahwa wisata unggulan dunia ialah wisata yang membuat orang mengeluarkan uang banyak, namun ia terbayarkan ketika datang ke Jogja. Ia pun mengatakan bahwa harus ada suatu dalam bidang budaya yang bisa dijual, Bali contohnya. Bali memilik tari kecak, tari leak, dan sendratari Ramayana yang dijual. “Saya kira ini ini bukan hanya urusan Dinas Pariwisata namun semua sektor, dalam Perda ini kita harus mampu menampilkan ide-ide. Dinas Perhubungan bisa memberikan support transportasinya, dan juga support dari sektor lainnya. Maka dari itu di dalam Perda ini nanti tidak sekadar menetapkan kawasan untuk kelas dunia namun juga infastuktur ialah angkutan umum salah satunya.” Jelas Suharwanta. Kepala Dinas Pariwisata menjelaskan bahwa Yogyakarta memiliki keistimewaan, salah satunya ialah sumbu filosofis yang diakui dunia. Membahas mengenai sumbu filosofis kemudian Totok menambahkan, “Kita perlu narasi, sejelek apapun sumbu filosofi apabila dinarasikan maka akan menarik. Selain itu didukung dengan event kebudayaan yang besar yang dilakukan yang diserserahkan pada orang ketiga.” (est)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.