Bantul, dprd-diy.go.id – Komisi D DPRD DIY melaksanakan kunjungan kerja dalam daerah ke Situs Masjid Kauman Pleret, Kabupaten Bantul, pada Kamis (10/07/2025). Kegiatan ini bertujuan untuk meninjau secara langsung potensi pengembangan situs peninggalan sejarah Mataram Islam, yang dinilai memiliki nilai strategis sebagai sarana edukasi, religi, serta pemberdayaan masyarakat.
Dalam kunjungan tersebut, Ketua Komisi D DPRD DIY, R.B Dwi Wahyu B, S.Pd., M.Si, bersama Wakil Ketua Komisi D Anton Prabu Semendawai, SH., M.Kn, serta anggota lainnya disambut oleh perwakilan Dinas Kebudayaan DIY. Dinas menjelaskan bahwa situs masjid ini merupakan bagian dari kawasan bekas Keraton Pleret pada masa Sultan Amangkurat I, yang kemudian bubar akibat Perang Trunojoyo pada tahun 1677.
Menanggapi kondisi tersebut, R.B. Dwi Wahyu menekankan pentingnya manajemen tata kelola yang profesional agar situs bersejarah ini dapat dioptimalkan menjadi destinasi wisata edukatif dan menarik bagi pengunjung dalam dan luar negeri.
“Kita butuh manajemen tata kelola yang baik untuk segmen pariwisata, bukan hanya dari lembaga sekolah pendidikan, tetapi juga menjadi daya tarik yang luar biasa bagi peneliti dari luar negeri selain Borobudur dan Prambanan,” ujarnya.
Melihat banyaknya situs bersejarah yang tersebar di wilayah DIY, Dwi Wahyu juga juga menyoroti pentingnya dukungan anggaran yang memadai, khususnya dari Dana Keistimewaan yang bersumber dari RAPBN, guna mendukung ekskavasi dan pelestarian.
“Harapan kami, RAPBN bisa naik atau minimal kembali ke angka 1,42 triliun untuk menemukan situs baru dengan konsep pariwisata, ini harus segera ditindaklanjuti,” tegasnya.
Lebih lanjut, Komisi D bahwa menilai situs Masjid Kauman Pleret memiliki potensi besar untuk menjadi wahana edukatif. Di lokasi tersebut ditemukan berbagai elemen penting seperti umpak-umpak yang diduga merupakan bagian dari struktur masjid kuno dengan diameter 70 cm, serta bata-bata bekas pabrik gula. Tak hanya itu, keris bersejarah juga pernah ditemukan di lokasi ini dan kini disimpan di Museum Pleret.
Senada dengan Ketua Komisi D, Wakil Ketua Komisi D, Anton Prabu Semendawai, SH., M.Kn., turut menyampaikan pandangannya mengenai kekayaan sejarah DIY yang masih belum tergali secara menyeluruh.
“Pengembangan sejarah banyak belum ter-ekskavasi yang menjadi keistimewaan DIY, seperti Candi UII sebagai candi Buddha yang menjadi warisan UNESCO,” kata Anton Prabu.
Ia pun mengungkapkan rasa bangganya dapat menyaksikan secara langsung kekayaan budaya adiluhung yang dimiliki DIY, serta mengutarakan harapannya agar situs-situs bersejarah lainnya juga dapat dibuka untuk publik sehingga masyarakat dapat menikmati dan mempelajari nilai-nilai sejarah tersebut.
“Dengan budaya adiluhung, kami berbangga hati dapat melihat secara langsung. Harapannya situs masjid ini bisa dibuka secara umum,” ujarnya.
Dalam upaya mendukung promosi sejarah kepada publik, Anton juga menyoroti perlunya narasi sejarah yang disusun secara kronologis dan disebarluaskan melalui berbagai media, baik cetak maupun digital.
“Terdapat potensi sebagai wisata budaya, untuk memperkenalkan sejarah secara kronologis melalui narasi dan cerita pada buku atau e-book tentang DIY, juga digitalisasi dapat dilihat di DPAD termasuk manuskrip juga film sejarah DIY,” jelasnya.
Terkait pengembangan Masjid Kauman Pleret sebagai destinasi unggulan, Anton Prabu juga mengusulkan ide kreatif berupa pembangunan miniatur Keraton Pleret. Konsep ini diharapkan mampu mendukung sektor edukasi pariwisata, serta ekonomi warga sekitar.
“Situs ini dapat dijadikan miniatur Keraton Pleret untuk edukasi, sehingga bisa meningkatkan length of stay wisatawan pariwisata. Seperti dibangun guest house untuk memberdayakan warga sekitar, juga dari sisi keagaman dapat digunakan untuk pesantren,” usulnya.
Sementara itu, Salah satu tim arkeolog Dinas Kebudayaan DIY, Dwi Agung Hernanto S.Sos., M.M., yang turut mendampingi kunjungan, menjelaskan bahwa proses ekskavasi telah berlangsung sejak tahun 2000-an hingga menjelang pandemi COVID-19.
“Rekonstruksi situs bergantung dengan data yang ada, namun masih terbatas karena beberapa bahan sudah hilang dan reruntuhanya digunakan untuk membangun pabrik gula. Rencananya mungkin untuk memperbaiki narasi sebagai bahan edukasi dan komunikasi generasi mendatang,” ungkap Dwi Agung.
Secara keseluruhan, hasil kunjungan kerja Komisi D DPRD DIY menunjukkan bahwa Masjid Kauman Pleret memiliki nilai strategis yang tinggi sebagai salah satu aset budaya dan sejarah di DIY. Pengembangannya sangat memungkinkan untuk didukung melalui Dana Keistimewaan, dan diharapkan dapat segera direalisasikan sebagai destinasi wisata unggulan yang memperkuat citra DIY sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Islam di Indonesia. (adl/dta)

Leave a Reply