Public Hearing Pembahasan RAPERDA DIY tentang APBD DIY TA 2019

Jogja, dprd-diy.go.id – DPRD DIY selenggarakan Public Hearing pada Senin (1/10/2018) dengan agenda Rapat Dengar Pendapat Umum/ Public Hearing Dalam Rangka Pembahasan RAPERDA DIY tentang APBD DIY Tahun Anggaran 2019 tersebut dalam Bahan Acara Nomor 35 Tahun 2018. Acara dimulai pada pukul 13.20 yang dibuka dengan sambutan oleh Yoeke Indra selaku Pimpinan Rapat, kemudian dilanjutkan pada sesi acara yang dibawakan oleh Arif Noor Hartanto selaku moderator.

Public hearing pada hari ini mengundang tiga narasumber antara lain Gatot Saptadi selaku Sekretaris Daerah DIY, Tavip Agus Rayanto selaku Kepala Bappeda DIY, Bambang Wisnu Handoyo selaku Kepala DPPKA DIY, serta dihadiri oleh JB. Priyono selaku Kepala BPS DIY. Diawali dengan penyampaian presentasi dari Pemda terkait dengan prioritas pembangunan daerah untuk mengatasi ketimpangan wilayah, ketimpangan pendapatan, mengatasi kemiskinan, menindaklanjuti pembangunan NYIA, serta dukungan pembiayaan pembangunan melalui peran swasta.

Pemaparan mengenai RKPD DIY kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi termin pertama, di mana banyak masyarakat yang menyampaikan aspirasi dan tanggapannya, antara lain terkait dengan usulan pemberdayaan UMKM dengan berbagai program yang riel, budaya pembangunan karakter, gerakan literasi nasional, memperhatikan lansia, serta usulan adanya upah sektoral. Masyarakat juga mengeluhkan terkait aksesibilitas di sekitas RSUD Wates yang belum memadai, serta terkait permasalahan perumahan.

Hal tersebut ditanggapi oleh narasumber yang secara garis besar menyatakan bahwa akan terdapat pembangunan infrastruktur untuk kawasan RSUD Wates, penyampaian aspirasi perumahan sudah dirintis oleh Pemetintah dan telah didukung Kementerian PUPR, serta apresiasi dan dukungan narasumber terkait dengan adanya ruang publik untuk semua kalangan serta program untuk memajukan UMKM dan wirausahawan.

Pada termin kedua Arif Noor selaku Moderator memberi kesempatan kembali kepada para peserta untuk menyampaikan pertanyaannya secara langsung. Sama seperti sesi pertama, aspirasi masyarakat yang sudah disampaikan dijawab langsung oleh pemateri.

Dalam tanggapannya Gatot Saptadi menanggapi aspirasi dari Ketua Badan Museum Yogyakarta, Gatot berharap agar diadakan lomba menulis tentang museum dalam rangkaian Festival Museum nantinya untuk meningkatkan kujungan terhadap museum. Menganggapi aspirasi tentang usulan pertimbangan pembangunan dan dampak terhadap orang miskin ditanggapi oleh Tavip Agus Rayanto yang menyatakan “Ini ya jadi PR kita. Tapi ini juga berarti kita tidak bisa stagnan dalam situasi kemiskinan atau dalam konteks ini situasi tradisional di tengah identitas teknologi komunikasi menjadi tantangan pembangunan kita.

Pada akhir acara, JB Priyono menyampaikan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Yogyakarta tertinggi se-Indonesia dari 514 Kota Kabupaten. Sedangkan Sleman pada peringkat 5, Bantul menempati peringkat 37, Kulon Progo pada peringkat 98, dan Gunung Kidul pada peringkat 225. (ra/fda)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.